Presiden Lai Ching-te menghadiri "Forum Keamanan Nasional dan Ketahanan Ekonomi 2025", dan menegaskan bahwa ketahanan nasional meliputi empat aspek utama.
Ketahanan bukanlah pertahanan pasif, melainkan upaya aktif untuk membentuk masa depan. Hanya dengan menemukan keseimbangan antara kemandirian strategis, keamanan teknologi, stabilitas sosial, dan keberagaman ekonomi, barulah Taiwan dapat berdiri kokoh di tengah dunia yang penuh gejolak. Presiden Lai berharap dapat bekerja sama dengan kalangan industri, pemerintah, dan akademisi untuk membangun masa depan Taiwan yang lebih aman, stabil, berkelanjutan, dan tidak terputus.
Presiden Lai lebih lanjut menyampaikan bahwa saat ini dunia tengah berada dalam era ketidakpastian, dengan tatanan ekonomi internasional yang berubah secara cepat, situasi geopolitik yang semakin kompleks, serta tantangan berlapis seperti perubahan iklim ekstrem, keamanan pangan, ancaman siber, hingga perang kognitif.
Semua ini merupakan ujian besar bagi kelangsungan hidup negara dan kesejahteraan rakyat. Dalam konteks tersebut, keamanan nasional tidak lagi terbatas pada pertahanan militer, tetapi juga meliputi komunikasi, keuangan, energi, dan keamanan informasi. Sebagai anggota penting dalam barisan demokrasi global, Taiwan harus meningkatkan ketahanan secara menyeluruh agar dapat menjamin keamanan dan pembangunan berkelanjutan negara.
Presiden Lai memaparkan bahwa ketahanan keamanan nasional terdiri atas empat aspek utama, yaitu ketahanan rantai pasok; ketahanan komunikasi digital; ketahanan pertahanan masyarakat; dan terakhir, ketahanan ekonomi. Pemerintah saat ini sedang mendorong program “Sepuluh Konstruksi Baru AI”, yang merupakan strategi nasional untuk mengembangkan teknologi masa depan. Melalui prakarsa ini, Taiwan berupaya menguasai peluang di bidang kecerdasan buatan (AI) dan prospek ekonomi mendatang, dengan menghadirkan AI di berbagai sektor industri. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, menciptakan nilai baru, memperkuat daya saing Taiwan, serta memperkokoh ketahanan ekonomi.
Lebih lanjut, Presiden Lai menegaskan bahwa peta strategi Taiwan bukan sekadar bertujuan menghadapi risiko, melainkan juga menciptakan peluang. Tidak hanya menjaga status quo, tetapi juga membuka babak baru pembangunan. Hanya dengan menjaga keseimbangan antara kemandirian strategis, keamanan teknologi, stabilitas sosial, dan keberagaman ekonomi, Taiwan dapat tetap teguh di tengah dinamika global serta menjadi mitra terpercaya dan kontributor penting bagi komunitas demokrasi internasional.