28/01/2026

Taiwan Today

Politik

Wawancara Eksklusif Menlu Lin Chia-lung dengan Majalah Tempo Indonesia

27/01/2026
Menlu Lin mendorong Pemerintah Indonesia untuk memandang Taiwan sebagai mitra yang setara dan tepercaya.
Menteri Luar Negeri Lin Chia-lung menerima wawancara eksklusif secara daring dengan Majalah Tempo yang merupakan majalah terbesar di Indonesia. Wawancara ini adalah wawancara eksklusif perdana Menlu Lin Chia-lung dengan media Asia Tenggara sejak menjabat.
 
Dalam wawancara tersebut, Menlu Lin Chia-lung menyampaikan pandangannya mengenai situasi keamanan kawasan Indo-Pasifik, ancaman militer Tiongkok, serta kerja sama ekonomi dan teknologi antara Taiwan dan Indonesia. Menlu Lin menegaskan kembali komitmen Taiwan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas status quo di Selat Taiwan, sekaligus menyatakan keinginan untuk memperdalam kerja sama industri semikonduktor antara Taiwan dan Indonesia.
 
Menlu Lin menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir Tiongkok terus meningkatkan tekanan militer terhadap Taiwan, dengan mengombinasikan pelanggaran wilayah udara oleh pesawat militer, manipulasi informasi, serta perang kognitif sebagai bentuk ancaman hibrida untuk mengubah status quo di Selat Taiwan.
 
Ambisi geopolitik Tiongkok juga telah meluas ke Jepang dan Filipina, bahkan menantang tatanan internasional pasca-Perang Dunia II melalui klaim sepihak seperti pernyataan bahwa Kepulauan Ryukyu merupakan bagian dari Tiongkok.
 
Menlu Lin menegaskan bahwa tindakan-tindakan tersebut menunjukkan Tiongkok telah menjadi sumber utama yang merusak perdamaian dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Menghadapi ancaman tersebut, Pemerintah Taiwan akan tetap berpegang pada status quo serta terus mendorong reformasi pertahanan dan pembangunan ketahanan pertahanan seluruh masyarakat demi memperkuat daya tangkal dan menjaga perdamaian serta stabilitas Selat Taiwan. Taiwan tidak berniat meningkatkan konfrontasi,  tujuan utama yang ingin dicapai adalah memastikan perdamaian kawasan dan kebebasan bernavigasi.
 
Mengenai hubungan bilateral Taiwan-Indonesia, Menlu Lin menyatakan bahwa interaksi kedua pihak seharusnya tidak dibatasi oleh prinsip “satu Tiongkok” yang dikemukakan Beijing, melainkan kembali pada kerja sama pragmatis yang saling menguntungkan. Ia mencontohkan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang dibangun oleh Tiongkok, yang kerap iming-iming janji besar namun kemudian menimbulkan kontroversi terkait kualitas, pembiayaan, dan pemenuhan kontrak. Sebaliknya, Taiwan selama ini menjunjung tinggi prinsip integritas, menekankan kerja sama jangka panjang dan hasil nyata. Menlu Lin mendorong Pemerintah Indonesia untuk memandang Taiwan sebagai mitra yang setara dan tepercaya.
 
Mengenai prospek kerja sama, Menlu Lin menyoroti bahwa dalam era di mana semikonduktor menjadi komoditas strategis, teknologi, ekonomi, dan keamanan tidak lagi dapat dipisahkan. Pola lama “ekonomi bergantung pada Tiongkok, keamanan bergantung pada Amerika Serikat” dinilai tidak lagi relevan. Ia menyebut Indonesia memiliki pasar yang besar dan potensi pertumbuhan yang kuat, menjadikannya mitra penting Taiwan di kawasan ASEAN. Sebagai simpul kunci dalam rantai pasok semikonduktor global, Taiwan siap berperan sebagai jembatan untuk membantu Indonesia terhubung dengan “rantai pasok non-merah” yang dipimpin bersama oleh Amerika Serikat dan negara-negara demokrasi, serta memenuhi standar keamanan siber dan kepercayaan.
 
Menutup wawancara, Menlu Lin menyampaikan bahwa ruang kerja sama antara Taiwan dan Indonesia sangat luas. Taiwan akan terus memperkuat perannya di kancah internasional serta mendukung Indonesia dalam memainkan peran kepemimpinan di ASEAN, untuk bersama-sama membangun kawasan Indo-Pasifik yang bebas, terbuka, dan aman.
 

Terpopuler

Terbaru