Forum GCTF bertema "Membangung Ketahanan Siber: Kebijakan, Bisnis dan Inovasi" dibuka pada 31 Maret di Taipei.
Kementerian Luar Negeri (MOFA) menjelaskan lebih dari 130 pakar dan pejabat dari 29 negara turut berpartisipasi dalam forum tersebut untuk bertukar pandangan dan pengalaman mengenai penguatan kerja sama keamanan siber demi membangun lingkungan digital yang aman dan tepercaya.
Acara yang berlangsung selama tiga hari ini diselenggarakan bersama oleh Kementerian Luar Negeri (MOFA) serta kantor perwakilan Australia, Kanada, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Menteri Urusan Digital Yang Chia-ling dan Wakil Direktur The British Office di Taipei Wayne Ives, dilanjutkan dengan pidato utama oleh penasihat senior Dewan Keamanan Nasional, Lee Yuh-jye, yang membahas strategi membangun negara pintar, tangguh, aman, dan tepercaya.
Agenda forum meliputi berbagai isu, antara lain peningkatan kesiapsiagaan siber nasional melalui berbagi lintas batas dan pemodelan ancaman; pembangunan ekosistem pertahanan kolektif lintas negara; pengamanan rantai pasok global melalui aksi bersama; pemanfaatan kecerdasan buatan untuk memperkuat pertahanan siber; serta operasi AI dan transisi menuju era pascakuantum.
Forum ini juga menghadirkan lokakarya yang dimoderatori oleh Institut Peneliatian untuk Demokrasi, Masyarakat, dan Teknologi, yang memperkenalkan perancangan dan pelaksanaan latihan ketahanan digital dalam menghadapi ancaman gabungan.
Untuk membantu peserta memahami lebih jauh upaya Taiwan dalam menjamin keamanan siber infrastruktur penting serta capaian sektor teknologi tinggi, rangkaian kegiatan forum juga diisi dengan kunjungan lapangan ke pembangkit listrik Tatan milik Taiwan Power Co. serta Museum Inovasi milik TSMC.