Wakil Menteri Luar Negeri Chen Ming-chi menegaskan bahwa menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan merupakan hal yang sejalan dengan kepentingan komunitas internasional. Rakyat Taiwan tidak akan menerima skema “satu negara, dua sistem” ala Hong Kong yang diusung Tiongkok.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wamenlu Chen Ming-chi dalam sebuah wawancara eksklusif bersama jurnalis stasiun berita Inggris ITV News.
Menanggapi kunjungan sejumlah tokoh politik domestik ke China, Chen Ming-chi mengatakan bahwa opini publik di Taiwan didasarkan pada tiga prinsip utama, yaitu bahwa Taiwan dan Republik Rakyat Tiongkok (PRC) tidak saling berada di bawah subordinasi satu sama lain; masa depan Taiwan harus diputuskan secara demokratis oleh rakyat Taiwan; dan Tiongkok diharapkan mengurangi ketegangan militer di sekitar Taiwan. Ia menambahkan bahwa para tokoh tersebut harus menyampaikan prinsip-prinsip ini secara jelas kepada para pemimpin Tiongkok dalam kunjungan mereka.
Chen Ming-chi juga menegaskan bahwa Taiwan merupakan mitra yang baik dan dapat dipercaya, serta tidak akan memanfaatkan posisi pentingnya dalam rantai pasok global sebagai alat tekanan politik.
Terkait pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang saat ini berlangsung di Beijing, Chen Ming-chi mengatakan bahwa Taiwan memahami harapan AS untuk menstabilkan situasi melalui dialog. Ia berharap AS menyampaikan pesan bahwa menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan merupakan prioritas bagi AS dan negara-negara di seluruh dunia, Tiongkok tidak boleh secara sepihak mengubah status quo melalui kekuatan atau paksaan.
AS telah lama mendukung reformasi pertahanan nasional Taiwan, khususnya dalam meningkatkan kemampuan pertahanan diri Taiwan. Chen Ming-chi menyoroti penjualan senjata kepada Taiwan yang diumumkan AS tahun lalu, dan menambahkan bahwa Taiwan meyakini komitmen keamanan AS dalam menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.
Saat membahas risiko kemungkinan tindakan militer Tiongkok terhadap Taiwan, Chen Ming-chi mengatakan bahwa Beijing tidak boleh salah menilai atau salah memperhitungkan situasi, mengingat banyak pemimpin otoriter dalam sejarah telah melakukan kesalahan penilaian dan menghadapi konsekuensi serius. Ia menambahkan bahwa Taiwan terus mempelajari berbagai kemungkinan skenario dan mempersiapkan diri menghadapi segala situasi.