Presiden Lai Ching-te menerima kunjungan delegasi Brookings Institution dan menyampaikan apresiasi atas perhatian lembaga pemikir tersebut terhadap Taiwan serta kontribusinya dalam memperdalam saling pengertian antara Taiwan dan Amerika Serikat.
Dalam kesempatan itu, Presiden Lai menegaskan bahwa di tengah tantangan ekspansi otoritarianisme, restrukturisasi rantai pasok global, dan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), Taiwan berharap dapat semakin meningkatkan hubungan kemitraan dengan Amerika Serikat di berbagai bidang. Ia menyoroti pentingnya peningkatan kerja sama dalam pengembangan rantai pasok AI, pembangunan infrastruktur digital, pengembangan talenta teknologi tinggi, serta pembentukan rantai pasok drone non-Tiongkok (non-red supply chain), untuk bersama-sama berkontribusi bagi perdamaian dan stabilitas dunia.
Presiden Lai mengatakan pemerintah saat ini tengah berupaya mewujudkan Taiwan sebagai “Pulau Kecerdasan Buatan”, dengan mendorong penerapan AI di seluruh sektor industri. Pemerintah juga memprioritaskan pengembangan tiga teknologi strategis, yakni fotonik silikon, teknologi kuantum, dan robotika.
Baik dalam pengembangan rantai pasok AI, pembangunan infrastruktur digital, maupun pembinaan sumber daya manusia berteknologi tinggi, masih terdapat ruang yang sangat besar bagi Taiwan dan Amerika Serikat untuk mempererat kerja sama. Selain itu, pemerintah juga menargetkan Taiwan menjadi pusat pengembangan drone di kawasan Asia.
Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah secara aktif menginvestasikan berbagai program pengembangan industri serta mengajukan anggaran khusus pertahanan yang mencakup rencana pengadaan wahana nirawak untuk membangun sistem pertahanan dan serangan berbasis drone.
Presiden Lai menyatakan harapannya agar Taiwan dan Amerika Serikat dapat bekerja sama membangun rantai pasok drone non-Tiongkok, sehingga dapat mendorong perkembangan industri kedua belah pihak sekaligus memberikan kontribusi bagi perdamaian dan stabilitas global.
Direktur Brookings Institution Ryan Hass dalam sambutannya mengatakan bahwa kunjungan tahunan delegasi Brookings Institution ke Taiwan merupakan kelanjutan dari tradisi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Kunjungan tersebut terus dilaksanakan tanpa terputus, baik ketika Taiwan dipimpin oleh Partai Kuomintang (KMT) maupun Partai Progresif Demokratik (DPP), selama masa pandemi COVID-19, maupun ketika hubungan lintas Selat Taiwan berada dalam kondisi stabil ataupun tegang.
Ryan Hass menambahkan bahwa kesinambungan pertukaran tersebut mencerminkan perhatian jangka panjang Brookings Institution terhadap hubungan Amerika Serikat-Taiwan, sekaligus menunjukkan bahwa hubungan kedua pihak dibangun di atas kepentingan bersama, nilai-nilai demokrasi, dan saling menghormati.