Menteri Luar Negeri Lin Chia-lung pada 3 November 2026 menerbitkan sebuah artikel di jurnal bergengsi bidang hubungan internasional Foreign Affairs berjudul “Ambisi AI Amerika Bergantung pada Taiwan: Washington Tidak Dapat Mencapai Dominasi Teknologi Sendirian”.
Dalam artikelnya, Menlu Lin menyatakan bahwa Taiwan merupakan mitra rantai pasok kecerdasan buatan (AI) yang paling dapat diandalkan bagi Amerika Serikat (AS). Ia menekankan bahwa AS juga membutuhkan Taiwan untuk memenangkan persaingan teknologi antara AS dan Tiongkok.
Menurut Menlu Lin, Taiwan adalah mitra yang sangat diperlukan bagi AS dalam mempertahankan keunggulan teknologinya. Perkembangan industri semikonduktor Taiwan, lanjutnya, dibangun di atas kerja sama, pembagian peran industri, dan rasa saling percaya antara kedua pihak selama beberapa dekade, tanpa pernah mengorbankan kepentingan AS.
Keunggulan Taiwan tidak hanya terletak pada manufaktur cip. Kapasitasnya dalam produksi server AI juga membantu teknologi AI AS diterapkan secara cepat dan dalam skala besar. Menlu Lin menambahkan bahwa tahap baru persaingan AI akan berfokus pada penerapan nyata AI di berbagai sektor, termasuk robotika, drone, dan sistem pertahanan.
Dalam konteks tersebut, keunggulan Taiwan di bidang semikonduktor, peralatan komunikasi, dan mesin presisi sangat melengkapi kekuatan AS. Pada akhir artikelnya, Menlu Lin menegaskan bahwa Taiwan bukanlah pesaing AS, melainkan mitra paling tepercaya sekaligus pengganda kekuatan (force multiplier) bagi pengembangan AI AS.
“Jika Amerika Serikat ingin memenangkan persaingan AI, Taiwan akan menjadi mitra yang tidak dapat tergantikan,” tegas Menlu Lin.