Pusat Penanggulangan Wabah Flu Babi Afrika baru-baru ini menemukan bahwa produk makanan kaleng mengandung babi yang diimpor dari Vietnam terdeteksi mengandung asam nukleat virus flu babi Afrika (ASF). Menindaklanjuti temuan ini, instansi terkait meminta masyarakat untuk tidak mengonsumsi dan akan menarik produk makanan kaleng tersebut dari peredaran. Saat ini Taiwan telah menghentikan impor seluruh produk mengandung babi dari Vietnam.
Dewan Pertanian (COA) menjelaskan makanan kaleng dinilai relatif aman karena melibatkan penggunaan suhu/temperatur dan tekanan tinggi dalam proses pembuatan. Penyebab temuan ini kemungkinan besar disebabkan oleh penggunaan daging dari babi yang sudah mati karena virus ASF atau babi yang masih hidup tetapi telah terjangkit oleh virus ASF.
Sampai dengan tanggal 18 Desember yang lalu, petugas telah menarik 529 makanan kaleng dari berbagai minimarket yang menjual makanan khas Asia Tenggara, dan diperkirakan pada akhir bulan Desember, seluruh produk akan selesai ditarik dari peredaran di Taiwan.
Kasus ini ditemukan oleh Pusat Penanggulangan Wabah Flu Babi Afrika setelah instansi tersebut meminta Yayasan Industri Peternakan Nasional (NAIF) di seluruh Taiwan untuk melakukan pemeriksaan terhadap agen yang memiliki kemungkinan telah mengimpor produk daging dari negara tercemar ASF, seperti pada potongan daging dalam kemasan mi instan.
Sejak bulan Oktober 2018 – 24 Desember 2019, Pusat Penanggulangan Wabah Flu Babi Afrika telah menemukan 212 kasus dari hasil pemeriksaan di bandara dan pelabuhan. Dari 212 kasus tersebut, 164 kasus berasal dari Tiongkok, dan 48 kasus berasal dari Vietnam.
Selama tiga bulan terakhir, tingkat temuan produk daging tercemar ASF dari Vietnam mencapai 50%, atau dengan kata lain, dari setiap 2 produk terdapat 1 produk yang tercemar ASF, sementara tingkat temuan dari Tiongkok berada pada kisaran di bawah 20%. Sehingga bisa disimpulkan, penyebaran wabah ASF di Vietnam saat ini sedang mencapai puncak, dan penyebaran wabah ASF di Tiongkok masih belum menunjukan penurunan.