Kementerian Pendidikan (MOE) mengumumkan bahwa mulai tanggal 19 Agustus, 2.532 orang pelajar asing (pelajar lama dan pelajar baru) untuk tingkat SMA ke bawah diperbolehkan datang ke Taiwan untuk memulai/melanjutkan studi. MOE mencatat di antara jumlah tersebut terdapat 963 pelajar dari Indonesia, dan 974 pelajar dari Vietnam.
Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan (MOHW), Chen Shih-chung, menjelaskan para pelajar asing tingkat SMA ke bawah akan diwajibkan menjalani tes asam nukleat setelah menjalani karantina 14 hari, untuk memastikan mereka tidak tertular virus korona Wuhan (Covid-19). Hanya pelajar yang memiliki hasil tes negatif diperbolehkan untuk menyelesaikan karantina, dan biaya tes akan ditanggung oleh pemerintah.
Pengumuman tersebut sekaligus menandakan dimulainya pemberian izin masuk untuk pelajar asing gelombang keempat. Gelombang pertama adalah untuk mahasiswa perguruan tinggi program gelar dari 19 negara berisiko “rendah” dan “rendah hingga sedang”; gelombang kedua adalah untuk mahasiswa yang akan lulus pada tahun ajaran 2019, dan bukan berasal dari 19 negara yang dicantumkan pada gelombang pertama (termasuk mahasiswa dari Tiongkok); gelombang ketiga adalah untuk mahasiswa lama yang bukan berasal dari negara yang dicantumkan pada gelombang pertama (tidak termasuk mahasiswa Tiongkok).
Pelajar tingkat SD, SMP dan SMA akan memulai tahun ajaran baru pada tanggal 31 Agustus. MOE menjelaskan setelah mempertimbangkan pelaksanaan tes dan pemberian izin masuk bagi mahasiswa asing yang berjalan dengan teratur, maka MOE memutuskan untuk memperluas pemberian izin masuk kepada pelajar tingkat SMA ke bawah. Selain itu, mulai tanggal 19 Agustus 2020, pihak sekolah juga dapat membuat daftar nama dan melakukan pengajuan kepada MOE, untuk membantu penempatan pelajar di lokasi karantina 14 hari setelah mereka keluar dari imigrasi di bandara.