Kementerian Luar Negeri (MOFA Taiwan) meluncurkan Program Pelatihan Pemimpin Muda Negara-Negara Pasifik 2025 (Pacific Islands Leadership Program with Taiwan, PILP), Senin, 25 Agustus 2025. Program ini merupakan hasil kerja sama dengan lembaga kajian Amerika Serikat di Hawaii, East West Center (EWC), dan tahun ini telah memasuki penyelenggaraan ke-10.
Sebanyak 23 peserta dari berbagai negara Pasifik, termasuk Kepulauan Marshall, Palau, Tuvalu, Papua Nugini, Fiji, Kerajaan Tonga, Kepulauan Cook, dan Polinesia Prancis berpartisipasi dalam program ini.
Dalam program tahun ini, MOFA juga bekerja sama dengan Dewan Urusan Penduduk Asli (CIP) dan mengundang tiga pemuda penduduk asli Taiwan untuk berpartisipasi dalam program pelatihan, baik di Hawaii maupun di Taiwan. Langkah ini betujuan untuk memperkuat hubungan diplomasi dan kebudayaan Austronesia. Selain mempelajari topik hubungan internasional, keamanan kawasan, lingkungan berkelanjutan, kerja sama kesehatan, dan kajian Austronesia, para peserta juga akan menginap di komunitas masyarakat adat di Kabupaten Pingtung.
Upacara pembukaan dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Ger Bau-shuan, dan sejumlah tamu kehormatan turut hadir untuk menyampaikan sambutan, di antaranya Duta Besar Tuvalu Lily Tangisia Faavae, Wakil Kepala Misi Kepulauan Marshall Cassailis Jarom, Wakil Direktur Kantor Perwakilan AIT/Taipei Karin Lang, serta Direktur Program Pengembangan Negara Pasifik EWC, Mary Therese Perez Hattori. Perwakilan dari Kantor Perdagangan dan Investasi Australia serta Kantor Pemerintah Negara Bagian Hawaii di Taipei juga hadir dalam kesempatan tersebut.
Dalam sambutannya, Wamenlu Ger Bau-shuan menegaskan bahwa Taiwan dan negara-negara Pasifik menghadapi tantangan serupa, mulai dari ketegangan geopolitik hingga krisis perubahan iklim. Taiwan, memiliki kemampuan dan tekad untuk berkontribusi bagi keamanan kawasan, serta berkomitmen membantu negara-negara Pasifik dalam pembangunan kapasitas, keberlanjutan lingkungan, dan tata kelola demokratis.
Duta Besar Tuvalu Lily Tangisia Faavae menyoroti ancaman serius yang dihadapi negara-negara Pasifik, termasuk kenaikan permukaan laut, dan menekankan pentingnya memperkuat kerja sama regional. Sementara itu, Wakil Kepala Misi Kepulauan Marshall Cassailis Jarom menyampaikan apresiasi atas dukungan Taiwan bagi pembangunan di kawasan Pasifik, serta menekankan arti penting kerja sama ini bagi perdamaian dan stabilitas Indo-Pasifik.
Wakil Direktur AIT/Taipei Karin Lang dalam sambutannya menyampaikan bahwa Taiwan telah menjadi pemimpin global dalam tata kelola demokrasi, kesehatan masyarakat, serta industri teknologi tinggi seperti semikonduktor dan kecerdasan buatan. Ia menambahkan bahwa sebagai negara Pasifik, Amerika Serikat menempatkan kawasan Indo-Pasifik sebagai prioritas utama kebijakan luar negeri dan akan terus mendorong perdagangan, investasi, dan pertukaran bisnis.
Selain itu, Karin Lang juga menyinggung prakarsa Kerangka Kerja Sama dan Pelatihan Global (GCTF) yang digagas bersama oleh Amerika Serikat, Taiwan, Jepang, Kanada, dan Australia. Prakarsa ini telah melatih para pakar dari kawasan Pasifik di bidang penanggulangan bencana, kesehatan masyarakat, dan keamanan siber, serta memperlihatkan komitmen terhadap ketahanan kawasan dan kerja sama internasional. Ia berharap hubungan yang dibangun oleh para peserta selama di Taiwan dapat mempererat kerja sama trilateral antara negara-negara Pasifik, Taiwan, dan Amerika Serikat, serta mendorong terciptanya kemakmuran dan keamanan regional.